SEJARAH ISLAM MODERN
selamat datang ya guys di Blogeer mamas ardidika..
Peranan sejarah Islam
dalam mewarnai sejarah dunia cukup diperhitungkan para ahli sejarah
Islam, walaupun akhir-akhir ini Islam dipandang jauh tertinggal
dibandingkan Barat, tetapi Barat juga harus mengakui bahwa embrio ilmu
pengetahuan yang berkembang di Barat begitu spektakuler tidak terlepas
dari peran ulama-ulama Islam.
Periode modern merupakan
masa kebangkitan Islam kembali yang diwarnai oleh kemerdekaan
negara-negara Islam serta kemunculan para tokoh-tokoh pemikir
pembaharuan Islam. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai hal
tersebut.
1. PERIODE MODERN: MASA KEMERDEKAAN NEGARA ISLAM
Pada abad ke-18 dan 19,
era modern diwarnai oleh kemerdekaan negara-negara Islam. Dalam
tahun-tahun terakhir ini banyak Negara muslim yang telah merdeka
khususnya di Asia dan Afrika, bersamaan dengan itu muncul pula
organisasi-organisasi dan partai-partai nasional yang mendasarkan
bentuk-bentuk pemerintahan pada prinsip-prinsip syari'at Islam.
A. Faktor yang Mempengaruhi
Kemerdekaan Negara Islam
tentunya melalui proses yang cukup panjang dalam memperoleh
kemerdekaannya kembali, oleh karena itu adanya faktor-faktor yang
mendorong masyarakat di Negara muslim sangat memungkinkan, di antaranya
adalah:
- Benturan
antara Islam dan kekuatan Eropa telah menyadarkan umat Islam bahwa
mereka memang jauh tertinggal dari Eropa. Turki Usmani adalah yang
pertama merasakan itu sehingga memaksa penguasa dan pejuang Turki untuk
belajar di Eropa.
- Dorongan
gagasan dua factor yang saling mendukung dalam gerakan pembaharuan
Is;am, pertama, pemurnian ajaran Islam dari unsure-unsur asing yang
dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam. Kedua, gagasan-gagasan
pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Barat, seperti gerakan Wahabiyah
dan Sanusiyah di Saudi Arabia dan Afrika Utara.
- Bangkitnya
gagasan Nasionalisme di dunia Islam yang diikuti dengan berdirinya
partai-partai politik merupakan modal umat Islam dalam perjuangannya
untuk mewujudkan Negara nerdeka yang lepas dari pengaruh Barat.
B. Kemerdekaan Negara Islam dan Pengaruhnya
Adapun Negara-negara Islam yang merdeka pada abad ke-19 dan 20 diantaranya:
- Pakistan,
merdeka pada tahun 15 Agustus 1947, kemerdekaan Pakistan diperoleh dari
penjajahan Inggris yang menyerahkan kedaulatannya di India kepada dewan
konstitusi, satu untuk India dan Pakistan, adapun presiden pertamanya
adalah Ali Jinnah.
- Mesir,
negara ini merdeka secara resmi dri penjajahan Inggris pada tahun 1922
tetapi pengaruh Inggris masih besar melalui Raja Faruk, kemudian setelah
tergulingnya Raja Faruk Mesir merasa benar-benar sudah merdeka dibawah
pemerintahan Jamal Abd al Naser pada tahun 1958.
- Irak, memperoleh kemerdekaan secara formal pada tahun 1932, tapi rakyatnya baru merasakan benar-benar merdeka pada tahun 1958.
- Syiria, Yordania, dan Lebanon. Negara-negara sekitar Irak ini memproklamirkan kemerdekaannya sekitar tahun 1946.
- Negara-negara
Afrika, Libya merdeka sekitar tahun 1951, sudan dan Maroko pada tahun
1956, sedangkan al Jazair memperoleh kemerdekaan pada thun 1962.
semuanya membebaskan diri dari penjajahan Perancis, perlu diingat dalam
kurun waktu hampir bersamaan ada Negara yang juga memperoleh
kemerdekaan, yaitu Yaman Utara, dan Yaman Selatan, serta Emirat Arab.
- Negara-negara
Asia Tenggara, Malaysia pada tahun 1957 dan Brunei Darussalam pada
tahun 1984 juga menyatakan kemerdekaannya dari Inggris.
2. PERIODE MODERN: MASA PEMBAHARUAN ISLAM
Periode ini merupakan
kebangkitan Zaman Kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon di Mesir yang
berakhir di tahun 1801, membuka mata dunia Islam, terutama Turki dan
Mesir, akan kemunduran dan kelemahan umat Islam di samping kemajuan dan
kekuatan Barat. Raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berfikir dan mencari
jalan untuk mengembalikan balance of power, yang telah pincang dan
membahayakan Islam. Kontak Islam dengan Barat sekarang berlainan sekali
dengan kontak Islam dengan Barat di periode klasik. Pada waktu itu Islam
sedang menaik dan Barat sedang dalam kegelapan. Sekarang, sebaliknya
sedang dalam kegelapan dan Barat sedang menaik. Kini Islam yang ingin
belajar dari Barat.
Oleh karena itu,
timbullah pemikiran dan aliran pembaharuan atau modernisasi dalam umat
Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikiran-pemikiran umat Islam
yang membuat Islam maju. Usaha-usaha ke arah itupun mulai dijalankan
dalam kalangan umat Islam. Tetapi dalam pada itu, Barat juga bertambah
maju.
A. Kerajaan dan Negara Islam Beserta Era Pembaharuannya
1. Kerajaan Mughal India
Kerajaan Mughal di India
merupakan salah satu Kerajaan Islam terbesar di dunia yang tidak dapat
dilupakan dalam lintasan sejarah peradaban umat Islam. Pendiri kerajaan
ini adalah Zahiruddin Muhammad, dikenal dengan Babur yang berarti
singa.
Babur hanya dapat
menikmati usaha merintis kerajaan Mughal selama lima tahun. Setelah
wafat (1530 M), pemerintahan diteruskan oleh puteranya yang bernama
Humayun. Tidak berbeda dengan ayahnya, ia juga menghiasi kepemimpinannya
dengan peperangan.
Pergantian demi
pergantian raja terus berlanjut, dari Sultan Akbar hingga Aurangzeb.
Setelah wafatnya Aurangzeb, raja-raja kerajaan tercatat semakin melemah.
Kerajaan Mughal tidak hanya sebagai simbol dan lambang belaka, bahkan
raja hanya diberi gaji oleh kolonial Inggris yang telah datang untuk
biaya hidup tinggal di istana.
Dengan fenomena ikut
andilnya Negara Inggris, maka muncul dan menciptakan ide pembaharuan.
Ide ini dicetuskan oleh Shah Waliyullah Dehalwi (abad ke-18) yang telah
menyebar ke seluruh India. Salah satu muridnya, Shah Abdul Azizi,
berusaha membersihkan ajaran-ajaran agama yang bukan dari Islam. Ia
berprinsip daerah-daerah yang dikuasai selain Islam, harus segera
direbut kembali. Dengan semangat tersebut, ia bersama para murid
melakukan perlawanan terhadap hegeemoni kekuasaan colonial Inggris.
Namun, akhirnya ia terbunuh dalam sebuah pertempuran di Balakot.
Meski terbunuhnya tokoh
di atas, tidak menciutkan nyali para tokoh lainnya. Maka muncul baru
dari tokoh-tokoh Islam di India yang ingin berjuang untuk kemerdekaan
India dari penjajah. Salah satunya adalah Sayyid Ahmad Khan. Ia mengajak
umat Islam untuk belajar bahasa Inggris, dan melakukan politik kompromi
dengan Inggris. Dalam berbagai tulisan, seminar dan pidato, Ahmad Khan
menyampaikan misinya yaitu menginginkan agar umat Islam mendirikan
Negara sendiri, jangan bercampur dengan umat Hindu. Karena umat Islam
akan tersisih menjadi minoritas.
Pada 1885, orang India
bergabung denganpartai politk all Indian National Congress, tujuannya
adalah untuk mendapatkan kemerdekaan, baik kelompok Islam maupun non
muslim dalam satu wadah. Namun, tokoh-tokoh muslim mulai berpikir
kembali bahwa imat Islam di India harus memiliki Negara sendiri, maka
terbentuklah Partai Liga Muslim pada tahun 1906 di Dhaka atas prakarsa
Nawab Vikarul Mulk dan Sir Salimullah.
Usaha tersebut tidak
sia-sia. Pada 15 Agustus 1947, mendapatkan tujuan yang dimaksud, yaitu
memperoleh kemerdekaan dan mendirikan negara sendiri yang berbasis
Islam. Negara itu dinamai Pakistan, dengan presiden pertamanya Ali
Jinnah.
2. Mesir
Mesir mulai zaman modern
ketika terjadi persinggungan antara Barat (perancis) dan Mesir denan
ekspedisi Napoleon tahun 1798. Ketika Perancis angkat kaki dari Mesir
pemerintahan diganti oleh Muhammad Ali Pasya sebagai gubernur Turki
Usmani. Ia memulai memodernisir Mesir, terutama di bidang militer dan
berkuasa hingga tahun 1848 yang kemudian digantikan oleh anaknya,
Ibrahim Pasya.
Tahun 1882 terjadi
pemberontakan Urabi Pasya terhadap Inggris yang menguasai Mesir. Negeri
lembah Nil itu baru merdeka dari Inggris tahun 1922. keturunan Muhammad
Ali Pasya berkuasa di Mesir hingga tahun 1953, ketiak Mesir dipimpin
oleh Raja Faruq. Kemudian digantikan oleh Muhammad Naguib dan Mesir
berubah menjadi negara Republik. Ia menggalang persatuan dengan Syiria
yang diberi nama Republik Persatuan Arab pada tahun 1958. Namun,
persatuan itu tidak lama, hanya sampai September 1961.
B. Pemikiran Islam Modern
Berawal dari kegelisahan
umat Islam pada saat itu, yaitu banyaknya muncul
penyelewengan-penyelewengan ajaran Islam, baik di kalangan masyarakat
biasa, maupun dalam tingkatan politik dan pendidikan. Maka diperlukan
adanya proses modernisasi maupun pembaharuan baik di bidang politik,
pendidikan dan akidah.
Selain itu, salah satu
sebab perlunya perkembangan modern dalam Islam adalah karena dalam agama
terdapat ajaran-ajaran absolute mutlak benar, kekal tidak berubah dan
tidak bisa diubah. Ajaran-ajaran itu diyakini sebagai dogma dan sebagai
akibatnya timbulllah sikap dogmatis agama. Sikap dogmatis membuat orang
tertutup dan tak bisa menerima pendapat yang bertentangan dengan
dogma-dogma yang dianutnya. Dogmatisme membuat orang bersikap
tradisional, emosional dan tidak rasional.
Pembaharuan dalam hal
apapun, termasuk dalam konteks keagamaan (pemahaman terhadap ajaran
agama) akan terus dan selalu terjadi sebab cara dan pola berpikir
manusia serta kondisi social masyarakat selalu berubah seiring dengan
kemajuan ilmu pengetahuan di segala bidang yang akhirnya membuahkan
tekhnologi yang semakin canggih. Lain dari pada itu kemunduran dan
stagnasi berpikir umat sebagai buah dari fanatisme serta adanya "pihak
luar" yang ingin merekomendasi dan menguasai, mendorong sebagian pemikir
untuk mengadakan pembaharuan.
Upaya pembaharuan dalam
Islam mempunyai alur yang panjang khususnya sejak bersentuhan dengan
dunia Barat, untuk memahami makna dan hakekat pembaharuan. Dan yang
masih menjadi pertanyaan besar adalah mengapa umat Islam masih
tertinggal dari dunia Barat (setelah dahulu mengalami masa keemasan).
Penjajahan oleh bangsa
Barat terhadap bangsa-bangsa Islam semakin memperjelas ketinggalan dunia
Islam akan segala hal. Bangsa yang pertama kali merasakan
ketertinggalan itu adalah Turki Usmani. Disebabkan karena bangsa ini
yang pertama dan yang utama menghadapi kekuatan Barat.
Pembaharuan yang
dilakukan Turki Usmani diutamakan dalam pranata social, politik, dan
militer. Kerja keras para penguasa dalam upaya memodernisasi kerajaan
Turki Usmani membawa dampak yang baik bagi gerakan modern di
Negara-negara Islam lainnya seperti Mesir.
Pada dasarnya kelemahan
dunia Islam itu terletak pada bidang akidah yang sudah tercemari oleh
berbagai khurafat dan bid'ah, juga kelemahan dan ketertinggalan dalam
bidang sains dan tekhnologi. Kemudian kehadiran para tokoh modernis
(pembaharu) itu pada umumnya untuk membangkitkan kesadaran umat Islam.
Berikut tokoh dan pemikirannya yang ikut andil dalam mempebaharui
kebangkitan Islam.
1. Pembaharuan dalam Bidang Akidah
a. Muhammad ibn Abdul Wahhab
Pemikiran Muhammad ibn
Wahhab mempengaruhi dunia Islam di masa modern sejak abad kesembilan
belas. Walaupun ia sendiri hidup di abad sebelumnya, tetapi pemikirannya
mengilhami gerakan-gerakan pembaharuan Islam pada abad setelahnya.
Bahkan sisa-sisanya masih terasa hingga kini.
Muhammad ibn Abdul Wahab
lahir di Uyainah, Nejd Arabia Tengah pada tahun 1115 – 1703 M. Ayahnya
Abdul Wahhab adalah seorang hakim di kota kelahirannya. Di masa
pemerintahan Abdullah ibn Muhammad ibn Muammar dan mengajar fiqh dan
hadis di masjid kota tersebut. Kakeknya Sulaiman, adalah seorang mufti
di Nejd. Ia mulai belajar agama dari Ayahnya sendiri dengan membaca dan
menghafal al-Qur’an. Di samping belajar kitab-kitab agama aliran
Hanbali, ia berkelana mencari ilmu ke Mekkah, Madinah dan Basra.
Sebutan Muahidun adalah
nama yang diberikan kepada kaum muwahhidun (kelompok pemurnian tauhid)
oleh lawan-lawannya, karena pemimpinnya bernama Muhammad ibn Abdul
Wahab.
Pemikiran keagamaan yang
dibawakan olehnya dan menonjol difokuskan pada pemurnian tauhid, yakni
meng-Esa-kan Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Namun, dengan berjalannya
waktu, gerakan mereka berkembang menjadi gerakan politik. Meski
demikian, ia tidak meninggalkan misi asalnya yaitu pemurnian Islam.
Menurutnya, pembagian
tauhid dikategorikan menjadi tauhid ilahiyyah, rubbubiyah, asma, sifat
dan tauhid af’al yang disebut juga tauhi ilm dan i’tiqad.
Baginya, syirik adalah
orang yang menyekutukan Allah dan tidak akan diampuni oleh Allah dosa
yang disebabkan tersebut. Pembagian syirik menjadi dua, yaitu syirik
akbar (syirik yang nyata) dan syirik asghar (syirik yang tidak tampak)
seperti berbuat berlebihan terhadap mahluk yang tidak boleh seseorang
beribadah kepadanya, bersumpah kepada selain Allah dan riya’
b. Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahir di
Mesir pada tahun 1849 M, ayahnya bernama Abdul Hasan Khoirullah yang
berasal dari Turki, dan ibunya seorang Arab yang silsilahnya sampai
kepada suku Umar Bin Khatab. Abduh termasuk anak yang cerdas, meskipun
ia bersal dari keluarga petani miskin di Mesir. Sejak kecil ia tekun
belajar dan melanjutkan studinya di al Azhar.
Sebagai rektor al-Azhar,
ia memasukkan kurikulum filsafat dalam pendidikan di al-Azhar, upaya
ini dilakukan untuk mengubah cara berpikir orang-orang al-Azhar. Akan
tetapi usahanya ini mendapat tantangan keras dari para syekh al Azhar
lainnya yang masih berpikiran kolot. Oleh karena itu, usaha pembaharuan
yang dilakukan lewat pendidikan di al-Azhar tidak berhasil.
Meskipun begitu, ide-ide
pembaharuan yang dibawa Abduh, memberikan dampak positif bagi
perkembangan pemikiran dalam dunia Islam. Selain sektor pendidikan,
proyek pembaharuan Abduh menurut professor sejarah Islam di University
of Massachuussets adalah politik dan ranah social keluarga yaitu peran
wanita. Disamping tiu, Murodi dalam tulisannnya menambahkan analisisnya
bahwa ide-ide pemikiran Abduh diantaranya adalah: pembukaan pintu
ijtihad, penghargaan terhadap 'akal' (Rasionalitas), kekuasaan Negara
harus dibatasi oleh konstitusi, memodernisasikan sistem pendidikan Islam
di al Azhar.
c. Muhammad Rasyid Ridho
Rasyid Ridho dilahirkan
di al Qalamun, di pesisir laut Tengah, pada tanggal 23 September 1865 M.
Pendidikan bermula di madrasah al Kitab al Qalamun, kemudian di
madrasah ar Rasyidiah di Tropoli.
Selanjutnya beliau
melanjutkan pendidikan tingginya di al Azhar 1898 M dan berguru pada
Muhammad Abduh. Diantara pembaharuannya adalah: pembaharuan dalam bidang
agama, social, ekonomi, memberantas khurafat dan bid'ah. Serta
paham-paham yang dibawa tarekat.
Adapun ide-ide
pembaharuannya adalah: menumbuhkan sikap aktif dan dinamis di kalangan
umat, mengajak untuk meninggalkan sikap fatalisme (jabariyah),
rasionalitas dalam penafsiran al Qur'an dan Hadis, penguasaan sains dan
tekhnologi, pemberantasan khurafat dan bid'ah, serta pemerintahan yang
bersistem khalifah.
2. Pembaharuan dalam Bidang Politik
a. Jamaluddin al-Afghani
Jamaluddin lahir di
Afganisan tahun 1839 dan meninggal di Istanbul tahun 1897. Ia termasuk
pembaharu yang berpengaruh di dunia Islam. Saat usia 25 tahun, ia
menjadi pembantu Pangeran Dost Muhammad Khan di Afganistan, dan pada
tahun 1864 menjadi penasehat Sir Ali Khan. Serta pernah diangkat sebagai
Perdana Menteri oleh Muhammad A’zam Khan beberapa tahun kemudian.
Ketika menjadi Perdana
Menteri, Inggris sudah ikut campur dalam urusan nergeri Afganistan, maka
Jamaluddin termasuk salah satu orang yang menentangnya. Karena kalah
melawan Inggris, maka ia lebih baik meninggalkan negerinya dan pergi
menuju ke India. Sejak itulah, ia berpindah-pindah kewarganegaraan.
Pernah ke Paris dan Turki. Perpindahan itu juga dalam rangka
membangkitkan umat Islam.
Dalam pola pikirnya, ia
berpendapat bahwa kemunduran umat Islam, salah satu sebabnya adalah
meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Ajaran qada’ dan qadar
telah berubah menjadi ajaran fatalisme yang menyebabkan umat menjadi
statis. Sebab-sebab lain adalah perpecahan di kalangan umat Islam
sendiri, yaitu lemahnya persaudaraan antar umat Islam dan lain-lain.
Untuk mengatasi semua itu, menurutnya umat Islam harus kembali kepada
ajaran Islam yang benar, mensucikan hati, memuliakan ahlak, berkorban
untuk kepentingan umat, pemerintahan otokratis harus diubah menjadi
demokratis. Dan persatuan umat harus diwujudkan sehingga umat akan maju
sesuai tuntutan zaman.
Selain itu, ia
menegaskan bahwa solidaritas sesama muslim bukan karena ikatan etnik
maupun rasial, tetapi karena ikatan agama. Muslim entah dari bangsa mana
datangnya, walau pada mulanya kecil akan berkembang dan diterima oleh
suku dan bangsa lain seagama selagi ia masih menegakkan hukum agama. Ide
yang terahir inilah merupakan ide orisianal darinya, yang dikenal
dengan Pan Islamisme, persaudaraan sesame umat Islam sedunia.
b. Muhammad Ali Pasya
Muhammad Ali Pasya
adalah orang pertama yang membuka jalan pembaharuan di Mesir, kemudian
beberapa tahun di akui sebagai the founder of modern egypte. Berasal
dari Turki, kelahiran Yunani pada tahun 1765 dan wafat pada tahun 1849.
Sejak kecil beliau telah bekerja keras untuk keperluan hidupnya,
sehingga tidak mempunyai waktu untuk sekolah dengan demikian beliau
tidak pandai baca tulis. Setelah dewasa Ali Pasya bekerja sebagai
pemungut pajak dan karena rajin bekerja beliau disukai oleh gubernur
yang akhirnya diangkat menjadi menantu.
Pada waktu penyerangan
Napoleon ke Mesir, Sultan Turki mengirim bantuan tentara ke Mesir, di
antara perwiranya adalah Muhammad Ali Pasya yang ikut melawan Napoleon
pada tahun 1801, setelah itu diangkat menjadi colonel dan mulai saat itu
Ali Pasya menjadi penguasa tunggal di Mesir. Akan tetapi ia keasikan
dengan kekuasaannya dan bertindak diktator.
Akhirnya Muhammad Ali
dan keturunannya menjadi raja di Mesir kurang lebih 1,5 abad lamanya.
Akhir kekuasaanya pada tahun 1953. Jika diteliti Muhammad Ali Pasya
tidak pandai baca tulis, tetapi beliau seorang yang cerdas dan merupakan
sosok ambisius menjadi penguasa umat Islam. Keambisiusannya itu tampak
dalam pembaharuan yang dilakukan terhadap kemajuan umat Islam,
diantaranya: perkembangan politik dalam negeri maupun luar negeri,
seperti membangun kekuatan militer, meningkatkan bidang pemerintahan,
ekonomi dan pendidikan.
3. Pembaharuan dalam Bidang Pendidikan
a. al Tahtawi
Nama aslinya adalah
Rifa'ah Badhawi Rafi' al Tahtawi, lahir pada tahun 1801 di Mesir
Selatan, wafat tahun 1873 di Kairo. Seorang pembaharu yang mempunyai
pengaruh besar pada abad ke-19 dan seorang yang sangat berpengaruh dalam
usaha-uasaha gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammad Ali
Pasya. Al Tahtawi belajar di al Azhar Mesir, dan setelah kembali
diangkat menjadi sebagai guru bahasa Perancis dan penerjemahan di
sekolah kedokteran.
Pada tahun 1836
didirikan sekolah penerjemah yang kemudian dikepalai oleh al Tahtawi.
Beliau bukan seorang penganut sekuler, usahanya adalah memperbaiki
tradisi, khususnya dalam bidang pendidikan, kewanitaan dan memperbaiki
literature. Beliau menginginkan Mesir maju seperti dunia Barat, namun
tetap dijiwai oleh agama dalam segala aspek.
Salah satu jalan untuk
kesejahteraan menurutnya adalah, berpegang pada agama dan akhlak budi
pekerti, untuk itu pendidikan merupakan sarana penting. Tujuan dari
pendidikan menurutnya adalah membentuk manusia berkepribadian patriotic
dengan istilah hubbul wathon yaitu mencintai tanah air. Perasaan
patriotic itu akan menimbulkan rasa kebangsaan, persatuan, tunduk dan
mematuhi undang-undang, serta bersedia mengorbankan jiwa dan harta untuk
mempertahankan kemerdekaan.
Dalam hal agama dan
peranan ulama, al Tahtawi menghendaki agar para ulama selalu mengikuti
perkembangan dunia modern dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan
modern. Ini mengandung arti bahwa pintu ijtihad tetap dibiarkan terbuka
lebar. Ide-ide pembaharuan yang dilontarkan al Tahtawi: ajaran Islam
tidak hanya monoton mengurusi Tuhan akan tetapi kehidupan social juga
harus seimbang, kebiasaan dictator raja seharusnya diganti dengan
musyawarah, syari'at harus sesuai dengan perkembangan modern, para ulama
harus belajar filsafat dan ilmu pengetahuan agar syari'at sesuai dengan
kehidupan modern, pendidikan harus bersifat social (termasuk tidak ada
pembedaan bagi perempuan). Umat Islam harus dinamis.
Kesimpulan
Wajah peradaban Islam
era modern mempunyai beberapa kategori. Pertama kategori sebagai masa
kemerdekaan negara Islam. Pada abad ke-18 dan 19, era modern diwarnai
dengan kemerdekaan negara-negara Islam. Dalam tahun-tahun terakhir ini
banyak negara muslim yang telah merdeka. Bersamaan dengan itu muncul
pula organisasi-organisasi dan partai-partai nasional yang mendasarkan
bentuk-bentuk pemerintahan pada prinsip-prinsip syari'at Islam.
Kedua, masa pembaharuan
Islam. Dalam kategori ini terdapat beberapa konstribusi yang masih exist
bahkan dikembangkan. Berbagai bidang masih mewarnai pemikiran tokoh
ini, diantaranya; bidang Akidah diprakarasai oleh mantan Muhammad ibn
Abdul Wahhab disusul oleh mantan Rektor al-Azhar Mesir, Muhammad Abduh
dan muridnya Muhammad Rasyid Ridho. Keduanya melakukan pembaharuan untuk
menumbuhkan sikap aktif dan dinamis di kalangan umat, mengajak untuk
meninggalkan sikap fatalisme (jabariyah), rasionalitas dalam penafsiran
al Qur'an dan Hadis, penguasaan sains dan tekhnologi, pemberantasan
khurafat dan bid'ah, serta pemerintahan yang bersistem khalifah.
Pembaharuan lainnya
disusul dari berbagai macam bidang. Baik itu politik, pendidikan.
Pembaharuan tersebut dipelopori oleh beberapa tokoh.. Semisal bidang
politik dipelopori oleh Muhammad Ali Pasya. Dia diakui sebagai the
founder of modern egypte. Pembaharuan yang dilakukan diantaranya;
perkembangan politik dalam negeri maupun luar negeri.
Bidang Pendidikan,
pelopornya al Tahtawi. Menurutnya, pendidikan merupakan sarana penting
untuk meraih sejahtera. Selain itu, tujuan dari pendidikan adalah
membentuk manusia berkepribadian patriotic dengan istilah hubbul wathon
yaitu mencintai tanah air. Dalam hal agama dan peranan ulama, ia
menghendaki agar para ulama selalu mengikuti perkembangan dunia modern
dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan modern. Ini mengandung arti
bahwa pintu ijtihad tetap dibiarkan terbuka lebar.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad., Zainal Abidin,
Sejarah Islam dan Umatnya Sampai Sekarang: Perkembangannya dari Zaman ke
Zaman, Jakarta: Bulan Bintang, 1979
Asmuni., Yusron, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995
Azzam., Salim, Beberapa Pandangan Tentang Pembentukan Negara Islam, Bandung: Mizan, 1990
Bekker, Anton., dan Ahmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999
Hasan., Riaz, Islam dari Konservatisme sampai Fundamentalisme, Jakarta: Rajawali Press, 1985
Karim., M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2207
Moeleng., Lexi J, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991
Mufrodi., Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997
Murodi, Sejarah Kebudayaan Islam, Semarang: Toha Putra, 1997
Nasution., Harun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI Press, 1979
Noer., Deliar, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, 1996
Perkembangan Modern dalam Islam, pengantar: Harun Nasution Sabaruddin, Yayasan Obor Indonesia, 1985
Pioneeers of Islamic Reviva, edisi Indonesia; Para Perintis Zaman baru Islam, ter: Ilyas Hasan, Bandung: Mizan 1996
Surakhmad., Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar dan Metode Teknik, Bandung: Tarsio, 1990
Yatim., Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003
terimakasih ya....sudah membaca ..